Kesehatan memang mahal sangat mahal, tapi seringkali manusia mengabaikan karena tidak menyadari. Ibarat pepatah pada saat hilang akan terasa berarti.
Pada saat sakit itulah kita menyadari mahalnya arti sehat.
Dan itu terjadi pada keluarga kami. Pada saat saya sudah memutuskan resign karena ingin fokus sama kesehatan anak dan pendidikan mereka, terjadilah hal diluar dugaan. Ibu mertua divonis mengidap cancer tyroid yg jenisnya ganas.
Tetiba sesaat nafas menjadi penuh sesak, kaget sekaligus sedih mendengar vonis dokter yang secara langsung disampaikan kepada saya.
Setelah 1 bulan bumer bolak balik ke rumah sakit untuk dirawat, dan setelah tindakan operasi yang ternyata dokter menyerah untuk mengangkat tumor tersebut, dan akhirnya hanya diambil sedikit sekali untuk sample laboratorium.
Baiklah saya akan sedikit cerita disini awal mula gejala penyakit ini.
Awalnya sekitar 4-5 bulan yang lalu bumer mengeluhkan sakit tenggorokan, buat nelen sakit kami pikir itu radang tenggorokan biasa pergilah kami ke dokter umum. Diberi obat dan sembuh sementara, dan sakitnya terus berulang.
Akhirnya kami coba beikhtiar memeriksakan bumer ke rs karena kebetulan memiliki BPJS. Kami coba manfaatkan fasilitas tersebut.
Awalnya seperti biasa faskes 1 untuk minta rujukan untuk pemeriksaan ke RSUD. Setelah di periksa diputuskan untuk melakukan rontgen, usg dan biopsi di RSHS.
Namanya pake RSHS, antrinya luar biasa banget. Lebih seperti mall yang penuh sesak. Belum lagi terkadang aur dan prosedur yang sangaaaat panjang bikin new comers yg datang tambah bingung.
Akhirnya setelah proses pemeriksaan yang panjang di RSHS diberikan keputusan untuk dimasukan dalam waiting list tindakan pada tanggal 21 April 2015. Sedangkan saat periksa terakhir itu adalah pertengahan Maret 2015. Satu bulan menunggu untuk penanganan.
Baiklaahhh... akhirnya kami menunggu dan menungguuuu
Pada awal April kondisi bumer smakin down, tidak masuk makanan dan minuman sama sekali, timbul gejala pusing yang sangat dan sesak nafas. Tak ingin ambil resiko dibawalah ke RSMB. Biarpun swasta tapi bisa menggunakan fasilitas BPJS.
Alhamdulillah, ditangani oleh dokter paru-paru, dokter THT, dan dokter bedah. Terakhir ditambah dokter jantung.
Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan tumor. Setelah semua anggota keluarga sepakat, maka dilakukanlah operasi pengangkatan.
Astagfirullah ternyata Allah belum memberikan jalan kesembuhan melalui operasi, ternyata jenis tumor itu adalah tumor ganas yang ternyata sulit diangkat karena berbagai pertimbangan, salah satunya usia.
Akhirnya hanya diambil sample saja untuk dicek ke laboratorium untuk mengetahui jenis tumor itu.
1 minggu berlalu, kami tidak kuasa untuk menyampaikan hasil operasi pada bumer. Beliau slalu bertanya kenapa masih sulit menelan makanan, kenapa saat menelan ada suara krrkkkkk....
Akhirnya suami menerangkan keadaan yang terjadi, awalnya bumer sangat sedihdan down. Anggota keluarga yang lain pun mencibir tentang kegagalan operasi. Saya dan suami hanya bisa pasrah, saya bilang kita ini ikhtiar dan keputusan sembuh tetaplah dari Allah..
Suliit menyampaikan hal seperti itu karena kembali pada kepasrahan masing-masing.
Karena kondisi bumer smakin drop karena tidak masuk makanan sama sekali, dokter menyarankan untuk pemasangan selang daei hidung ke lambung. Itupun tidak berhasil karena saluran makan di tenggorokan sudah benar2 terjepit tumor.
Tidak hilang akal dokter pun menyarankan feeding gastrostomy, melalu perut langsung kelambung.
Masih trauma karena kegagalan operasi di leher bumer menolak sebagian anak-anaknya pun menolak, kecuali saya dan suami. Karena saya berfikir bumer harus mendapatkan asupan makanan untuk melawan penyakitnya.
Karena sebagian besar menolak maka kamipun meminta bumer dipulangkan saja, karena pertimbangan biaya dan ketakutan tindakan dokter.
Setelah seminggu dirumah kondisi semakin drop karena tanpa infus dan makanan sama sekali, dari situ kami mulai mempertimbangkan pemasangan feeding gastrostomy yang disarankan dokter sebelumnya. Bulatlah tekad dibawa kembali bumer ke RSMB.
Setelah di RSMB terjadi perbedaan pendapat kembali. Hingga hari ini Rabu, 6 Mei 2015 kami sepakat melakukan feeding gastrostomy, semoga ikhtiar kami dapat memberikan kekuatan kepada bumer untuk terus berjuang melawan penyakitnya.
Ada satu hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan bahwa menghadapi persoalan dan penyakit apapun hendaknya kita selalu berfikir dengan kepala dingin, jangan gegabah dalam mengambil keputusan, serta terima hasil dari apa yang telah kita putuskan dengan lapang dada dan rasa syukur.
Penting sekali persatuan dan satu pemahaman dalam menghadapi penyakit kritis dalam anggota keluarga, serta penting untuk terbuka dalam menerima saran dan tidak saling menyalahkan jika ternyata hasil tidak sesuai keinginan.
Mohon doa, semoga penyakit bumer menjadi pengguru dosanya, dan segera diangkat penyakitnya. Karena tidak ada yang tidak mungkin dari Allah Sang Pemilik Hidup.
Aamiin
Semoga bermanfaat bagi semua, tetap optimis dan keep fighting



